Provinsi

Cap Go Meh 2026 Di Makassar Dipadukan Nuansa Ramadan, WALUBI Sulsel Angkat Konsep Imlek Nusantara

Foto Kontributor
Ajeng

Kontributor

Rabu, 25 Februari 2026
...

Makassar, Kemenag Sulsel — Dewan Pimpinan Daerah Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI) Sulawesi Selatan didampingi oleh Pembimas Buddha Sulsel, Sumarjo, melakukan audiensi dengan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan dalam rangka memaparkan rencana pelaksanaan Festival Cap Go Meh Nusantara 2026 yang akan digelar bertepatan dengan bulan suci Ramadan.

Audiensi tersebut membahas konsep perayaan Cap Go Meh yang akan dipadukan dengan nuansa Islami, kegiatan sosial, serta penguatan nilai toleransi dan kerukunan antarumat beragama di Sulawesi Selatan.

Dalam audiensi tersebut, WALUBI Sulsel diwakili oleh Pdt. Roy Ruslim selaku Wakil Ketua 1 DPD Walubi Sulsel, Miguel Dharmadjie selaku Wakil Ketua 3 DPD Walubi Sulsel, serta Erdy Wijaya selaku Ketua DPD KCBI Sulsel.

Pdt. Roy Ruslim, menjelaskan bahwa perayaan Cap Go Meh 2026 yang jatuh pada 3 Maret 2026 akan dilaksanakan di Jalan Sulawesi, Makassar, dengan mengusung konsep Imlek Nusantara sebagai pesta rakyat yang inklusif dan menghormati umat Muslim yang menjalankan ibadah puasa.

“Nilai Imlek kami jadikan satu kesatuan dengan nilai kebangsaan. Karena itu kami mengusung konsep Imlek Nusantara, sebagai simbol persaudaraan, toleransi, dan kebersamaan lintas iman,” jelasnya.

Ia menambahkan, rangkaian kegiatan yang direncanakan meliputi lomba bedug, pertunjukan seni budaya dan gendang barongsai, serta pameran UMKM kuliner yang melibatkan sekitar 100 tenant pelaku usaha lokal.

Selain kegiatan budaya, WALUBI Sulsel juga akan merangkaikan bakti sosial di Kecamatan Wajo sebagai bentuk kepedulian menjelang Idulfitri. Kegiatan tersebut akan dilanjutkan dengan buka puasa bersama, yang rencananya diisi tausiyah oleh Ustadz Muhammad Fachru Rozi.

Sejalan dengan itu, Miguel Dharmadjie, menegaskan bahwa konsep Cap Go Meh Nusantara merupakan refleksi keberagaman Indonesia yang hidup berdampingan dalam semangat kemanusiaan.

“Perbedaan keyakinan tidak menghalangi kita untuk bersama-sama membangun kepedulian sosial. Nilai kemanusiaan menjadi titik temu seluruh umat,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua DPD Keluarga Cendekiawan Buddhis Indonesia (KCBI) Sulawesi Selatan, Erdy Wijaya, menilai penggabungan perayaan Cap Go Meh dengan nuansa Ramadan merupakan simbol toleransi yang tumbuh secara alami di tengah masyarakat.

Menanggapi paparan tersebut, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan menyampaikan apresiasi atas inisiatif WALUBI Sulsel dalam menghadirkan kegiatan keagamaan dan budaya yang menjunjung tinggi nilai kerukunan umat beragama.

Ia juga menyampaikan bahwa dirinya direncanakan akan hadir pada pelaksanaan Festival Cap Go Meh Nusantara 2026, sebagai bentuk dukungan terhadap upaya penguatan toleransi dan harmoni kehidupan beragama di Sulawesi Selatan.

“Atas nama Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan, kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi. Kegiatan keagamaan dapat berjalan dengan baik karena adanya sikap saling menghormati dan komitmen melayani umat. Inisiatif seperti ini patut diapresiasi dan menjadi contoh kerukunan umat beragama,” ujarnya.

Kakanwil juga menegaskan pentingnya menjaga harmonisasi antarumat beragama, agar perbedaan keyakinan tidak merusak persaudaraan dan kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat.

Editor: Mawardi

Terpopuler

Terbaru

Menu Aksesibilitas
Ukuran Font
Default