Saat Kebaikan Dan Keburukan Seimbang Mengenal Ashabul A’raf Dalam Tafsir Al-Munir AG. H. Daud Ismail
Kontributor
oleh :
Mutaillah Guru Man 2 Kota Makassar
Al-A’raf berarti tempat yang tinggi atau puncak sebuah pembatas. Tempat ini berada antara kebahagiaan yang abadi (Surga) dan kesengsaraan yang pedih (Neraka). Pemahaman mengenai tempat ini menjadi sangat penting karena di sinilah kita melihat bagaimana keadilan Allah bekerja dengan sangat teliti, di mana sekecil apapun amal tidak ada yang terlewatkan.
Menurut AG. H. Daud Ismail, gambaran tentang Al-A’raf bisa kita pahami dengan cara yang lebih sederhana.
Pertama, Hijab (Pembatas), Sebuah dinding kokoh yang berfungsi sebagai pemisah, namun bersifat transparan, memungkinkan komunikasi antara dua sisi yang berbeda.
Kedua, Tempat tertinggi, mereka yang berada di atasnya mampu menyaksikan kondisi penduduk surga dan neraka.
Ketiga, Wilayah Penantian (Transit), sebuah fase transisi bagi orang-orang yang nasib akhirnya berada di "ambang batas", menunjukkan bahwa rahmat Allah senantiasa membuka peluang bahkan di saat-saat paling kritis sekalipun.
Identitas Ashabul A’raf, Keseimbangan Antara Kebaikan dan Keburukan
Ashabul A’raf adalah mereka yang menempati posisi unik ini karena sebuah kondisi yang sangat spesifik. Mereka adalah kelompok manusia yang timbangan amal baik dan amal buruknya setara (seimbang). Kondisi ini menahan mereka di atas tembok pembatas, mereka tidak cukup berat untuk langsung melangkah ke surga, namun pahala kebaikan mereka cukup untuk menghalangi mereka jatuh ke dalam neraka.
Ashabul A’raf dianugerahi kemampuan untuk mengenali penghuni kedua tempat surga dan neraka. Mereka melihat wajah-wajah yang bersinar terang penuh cahaya (penghuni surga) dan membedakannya dengan wajah-wajah yang gelap, kusam, dan tertutup debu kehinaan (penghuni neraka). Mereka mengenali kenikmatan surga dan sangat merindukannya, namun belum diizinkan memasukinya. Mereka menyapa para penghuni surga dengan ucapan salam.
Berada di Al-A’raf sangat berat. Di tempat itu, perasaan mereka naik turun antara harapan dan ketakutan. Mereka merindukan surga, tetapi juga takut pada neraka.
Dalam tafsir AG H. Daud Ismail, bagian ini menjadi momen "Pembalikan Status Sosial" yang luar biasa. Ashabul A’raf mengenali para pemimpin kaum kafir Quraisy yang dahulu begitu digdaya, seperti Abu Jahl, Walid bin Mugirah, dan Al-Ash bin Wail. Di dunia, tokoh-tokoh ini tidak hanya menolak kebenaran, tetapi juga ingin menghancurkan Islam dan menghina kaum mukmin yang miskin dan lemah secara sosial. Dialog berikut menjadi teguran keras yang menghancurkan segala bentuk kesombongan materi.
Orang-orang di atas tempat yang tertinggi (Al-A‘raf) menyeru orang-orang yang mereka kenal dengan tanda-tanda (khusus) sambil berkata, “Tidak ada manfaatnya bagimu (harta) yang kamu kumpulkan dan apa yang selalu kamu sombongkan. (Al-A‘raf:48)
Dahulu, para pembesar Quraisy ini bersumpah bahwa orang-orang miskin seperti Bilal al-Habashi, Ammar bin Yasir, dan Suhayb ar-Rumi tidak akan pernah mendapat rahmat Allah. Namun, kenyataan kelak di akhirat justru membalikkan segalanya, para pemimpin sombong itu berada di neraka, sementara yang mereka hina justru dimuliakan di surga.
Akhir Perjalanan, Kemenangan Rahmat di Atas Segalanya
Meskipun Ashabul A’raf mengalami masa penantian yang penuh kebimbangan di ambang batas, akhir perjalanan mereka ditutup dengan kejutan rahmat yang luar biasa. QS Al-A’raf Ayat 49 dalam tafsir ini menegaskan bahwa Allah akhirnya memutuskan perkara mereka bukan berdasarkan perhitungan matematis amal yang seimbang, melainkan berdasarkan luasnya kasih sayang-Nya.
Dijelaskan oleh AG H. Daud Ismail:
“Nai onnangnge Ashabul A’raf rimunri ritahanna ri Al-A’raf, riparentaiyyangngi ri puang Allahu Ta’ala makkada pada uttama manengno mennang ri suruga rigau engkamu mennang degaga ametaureng messeriko nennia de tona mumasara ininnawa.”
Allah bertitah kepada mereka “masuklah kamu ke dalam surga, tidak ada kekhawatiran bagimu dan tidak pula kamu bersedih hati.”
Seburuk apa pun kondisi seorang hamba, selama ia memiliki iman dan pengharapan kepada Allah, maka harapan untuk selamat akan selalu ada. Wallahu A'lam