Belopa (Kemenag Luwu), Di ruang PLHUT Kantor Kementerian Haji dan Umrah
Kabupaten Luwu, Kamis (4/12/2025), suasana terasa berbeda. Ada getar haru, ada
degup rindu, ketika puluhan poeserta melangkah masuk untuk mengikuti Seleksi
Tahap I Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi dan PPIH Kloter
tahun 1447 H/ 2026 M.
Bagi mereka, bukan sekedar seleksi yang sedang dilakukan melainkan sebuah
perjalanan batin, ketika impian berada dekat dengan Baitullah seakan tinggal
sejengkal.
Acara resmi dibuka oleh Plt. Kepala Kemenhaj Kabupaten Luwu, Drs. H. Armin,M.Sos.I,
yang juga ketua panitia pelaksana. Dalam sambutannya, ia memaparkan bahwa
seleksi berbasis Compurer Assisted Test (CAT) terbagi dua: Kategori Non-Kloter,
terdiri dari: transportasi tiga peserta, konsumsi 10 peserta dan akomodasi 1
peserta. Katergori Kloter, untuk posisi ketua kloter, diikuti 11 peserta. Semuanya
peserta berasal dari unsur ASN maupun masyarakat berbagai organisasi Islam dan
lembaga pendidikan.
Ketenangan ruangan berubah menjadi suasana penuh renungan ketika H.
Mallingkai Ilyas. Lc., membacakan arahan Menteri Haji dan Umrah, Pesan yang
disampaikan menekankan bahwa menjadi petugas haji bukan sekadar tugas
administratif, melainkan kepada orang-orang pilihan.
Sebelum ujian dimulai, panitia memberikan penjelasan mengenai tata cara
pelaksanaan CAT serta silumasi penggunaan handphone. Meski terlihat serius,
wajah-wajah para peserta memancarkan harapan yang sama: semoga langkah ini
menjadi jalan menuju Tanah Suci.
H. Armin menutup pengarahannya dengan doa dan harapan tulus. “Kami berharap
ada putra-putri terbaik Luwu yang melanjutkan ke tahap berikutnya. Semoga Allah
memberikan yang terbaik bagi kita semua,” ujarnya.
Di tengah peserta, terselip kisah yang menggetarkan hati. Rosyanti Norjannah
Jamal, SE, salah satu peserta seleksi, menahan haru ketika ditanya apa yang
mendorong mengikuti ujian ini. “Saya hanya berharap Allah memilik saya. Melihat
Ka’bah adalah impian sejak lama. Semoga seleksi ini menjadi jalannya,”
ungkapnya penuh keyakinan.
Ketika ujian dimulai, setiap ketukan jari pada layar ponsel, setiap tatapan
pada soal-soal CAT, seakan sadar bahwa hasil akhir adalah ketetapan Allah. Namun
bagi mereka, hari itu adalah hari ketika jarak menuju Ka’bah terasa begitu
dekat, bahkan lebih dekat dari langkah kaki karena ia sedang didekatkan oleh
harapan, doa, dan pengabdian.
Menjelang penutupan, panitia dan seluruh peserta memanjatkan doa bersama:
semoga Allah memilih yang terbaik; semoga langkah kecil hari ini menjadi pintu
menuju Tanah Suci; semoga Ka’bah benar-benar tinggal sejengkal bagi mereka yang
rindu. Isl.