Daerah

Ketika Langit Bertemu Bumi: Pesan Sholat Isra’ Mi’raj Untuk Luwu Yang Berkarakter

Selasa, 20 Januari 2026
...

Belopa (Kemenag Luwu) – Peringatan Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah digelar pada Senin (19/1/2026) di Masjid Agung Belopa, Kabupaten Luwu. Kegiatan tersebut berlangsung dengan penuh kekhusyukan dan nuansa spiritual yang mendalam, mengusung tema “Aktualisasi Nilai Ibadah Sholat dalam Kehidupan Sosial Kemasyarakatan untuk Kabupaten Luwu yang Unggul dan Berkarakter.”

Acara tersebut dihadiri Bupati Luwu H. Patahuddin, S.Ag., Wakil Bupati Luwu, jajaran pejabat Pemerintah Kabupaten Luwu, unsur Forkopimda, pejabat Kementerian Agama Kabupaten Luwu dan staf, Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Luwu, para camat, tokoh perempuan, serta pengurus dan anggota Majelis Taklim se-Kabupaten Luwu.

Dalam sambutannya, Bupati Luwu H. Patahuddin menegaskan bahwa Isra’ dan Mi’raj merupakan peristiwa besar dalam sejarah Islam yang dialami langsung oleh Nabi Muhammad SAW dalam waktu kurang lebih satu malam. Peristiwa tersebut, kata dia, menjadi momentum penting bagi umat Islam untuk semakin mengenal hakikat Nabi Muhammad SAW sebagai upaya meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

Lebih lanjut, H. Patahuddin mengimbau seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Luwu agar bersama-sama meningkatkan kualitas sholat. Menurutnya, sholat harus dipahami sebagai kebutuhan spiritual, bukan sekadar kewajiban formal. Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus memperkuat ukhuwah Islamiyah demi mewujudkan Kabupaten Luwu yang unggul dan berkarakter.

“Semoga peringatan Isra’ dan Mi’raj ini semakin mendekatkan kita kepada Allah SWT, menambah wawasan keagamaan, serta membawa Kabupaten Luwu menuju daerah yang lebih maju dan bermartabat,” harapnya.

Sementara itu, penceramah K.M. Roni, HB, S.H.I., M.H., yang juga menjabat sebagai Penghulu pada KUA Kecamatan Lamasi Timur, menyampaikan tausiah dengan gaya yang santai namun sarat makna. Ia mengawali ceramahnya dengan canda ringan, seraya mengamati bahwa hampir setiap majelis taklim selalu dipenuhi oleh kaum ibu.

Namun demikian, ia mengajak jamaah untuk merenung lebih dalam ketika Rasulullah SAW menyampaikan bahwa banyak perempuan yang masuk neraka, padahal masjid dan pengajian justru sering diramaikan oleh kaum perempuan. “Mudah-mudahan kita semua dijauhkan dari api neraka dan termasuk golongan yang diridai Allah SWT,” tuturnya.

Kyai muda tersebut kemudian menguraikan bahwa seluruh makhluk ciptaan Allah SWT mendambakan ketenangan dan kesenangan, termasuk binatang dan alam semesta. Ia mencontohkan seekor burung yang terbang bebas dari satu ranting ke ranting lain sebagai bagian dari fitrahnya. Ketika burung tersebut dikurung, meskipun dalam sangkar emas dan diberi makanan terbaik, ia tetap kehilangan kebahagiaan karena hidup di luar fitrah yang ditetapkan Allah SWT.

Ia juga menyinggung kondisi alam, khususnya pegunungan yang gundul akibat eksploitasi berlebihan. Menurutnya, bencana seperti banjir bandang yang terjadi di berbagai daerah merupakan dampak dari rusaknya keseimbangan alam. Dalam konteks ini, agama hadir menawarkan konsep ekoteologi, yakni upaya mendamaikan hubungan manusia, alam, dan Tuhan. Ketika hubungan tersebut tidak harmonis, bencana menjadi konsekuensi yang tak terhindarkan.

“Kita diberi amanah untuk menjaga alam. Boleh dimanfaatkan, tetapi jangan berlebihan, karena Allah SWT tidak menyukai sesuatu yang melampaui batas,” tegasnya.

Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa manusia pun membutuhkan ketenangan dan kebahagiaan sejati. Ketenangan tersebut, menurutnya, bersumber dari ketaatan kepada Allah SWT. Beragama tidak cukup hanya dengan pengakuan lisan, tetapi harus dibuktikan melalui perilaku dan pengamalan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Ia menekankan bahwa kebahagiaan tidak diukur dari harta dan jabatan semata. Islam mengajarkan keseimbangan, kasih sayang, dan tanggung jawab. Salah satu kunci utama untuk menghadirkan ketenangan dan ketaatan adalah menjaga sholat dengan baik, karena sholat akan membentuk pribadi yang jujur, amanah, dan selalu merasa diawasi oleh Allah SWT.

“Semoga sholat yang kita dirikan mampu melatih dan membentuk diri kita menjadi pribadi yang lebih baik,” pungkasnya. Isl/Um.

Editor: Mawardi

Terpopuler

Terbaru

Menu Aksesibilitas
Ukuran Font
Default