Provinsi

MQK Internasional Wajo: Diplomasi Budaya Santri, Bimas Buddha Perkuat Kehadiran Lintas Agama

Foto Kontributor
Andi Baly

Kontributor

Jumat, 03 Oktober 2025
...

WAJO, KEMENAG SULSEL - Menteri Agama RI Nasaruddin Umar mengibaratkan Musabaqah Qiraatil Kutub (MQK) sebagai anak tangga pertama untuk kembali mewujudkan kejayaan peradaban Islam, sebagaimana pernah dicapai pada masa Khalifah Abbasiyah di Baghdad. Hal itu disampaikannya saat membuka MQK Nasional VIII dan MQK Internasional di Pesantren As'adiyah Macanang, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, Kamis (2/10/2025).

Dalam sambutannya, Menag menjelaskan pentingnya penguasaan bahasa Arab sebagai langkah awal untuk memahami dan membaca kitab-kitab kuning (turats). “Saya anggap ini sebagai anak tangga pertama menguasai bahasa Arab. Buku-buku itu tertulis dalam bahasa Arab,” ujarnya. Ia menambahkan, tahapan selanjutnya adalah menjadi musyarrif atau penyelidik kitab-kitab turats, dan tahap ketiga adalah menjadi muallif, yaitu penulis, pengarang, maupun penyusun karya baru untuk menghidupkan kembali tradisi Baitul Hikmah.

Menag menegaskan bahwa MQK bukan hanya sekadar ajang perlombaan, tetapi juga menjadi wadah silaturahmi para ulama, santri, dan akademisi lintas negara. Tema yang diusung pun menyinggung isu-isu global seperti perubahan iklim dan perdamaian dunia. “Merawat lingkungan, dan menjaga perdamaian adalah tema kita. Kaitannya dengan perubahan iklim dan persoalan perang yang harus segera diakhiri,” tutur Menag.

Ia mengingatkan bahwa perubahan iklim telah menelan korban jauh lebih besar dibandingkan perang. “Jika perang menelan 67 ribu korban jiwa per tahun, maka perubahan iklim telah merenggut hingga empat juta jiwa per tahun. Ini jumlah yang sangat besar dan harus menjadi perhatian kita,” jelasnya. Oleh karena itu, Menag mendorong agar ajaran agama turut dieksplorasi untuk menumbuhkan kesadaran menjaga alam.

“Kini saatnya Kemenag mensponsori apa yang kami sebut sebagai ekoteologi, yakni kerjasama antara manusia, alam, dan Tuhan,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Menag menegaskan MQK Internasional adalah bagian dari diplomasi budaya pesantren untuk meneguhkan Islam rahmatan lil-‘alamin di mata dunia. Menurutnya, pesantren adalah poros perdamaian yang menunjukkan Islam Indonesia tumbuh dengan dakwah ramah, penuh persaudaraan, dan menghormati budaya. “Pesantren adalah poros perdamaian. Kita ingin menunjukkan bahwa Islam Indonesia tumbuh dengan dakwah yang ramah, penuh persaudaraan, dan menghormati budaya,” pungkasnya.

Kesempatan tersebut juga dihadiri jajaran pejabat Kementerian Agama, termasuk Dirjen Bimas Buddha, Dirjen Bimas Kristen, Dirjen Bimas Katolik, dan Dirjen Bimas Hindu. Dirjen Bimas Buddha bahkan ikut mendampingi hingga purna acara pembukaan, sebagai wujud komitmen kerukunan lintas agama dan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan MQK yang mengusung semangat keilmuan, perdamaian, dan persaudaraan dunia. (Mrj)

Editor: Andi Baly

Terpopuler

Terbaru

Menu Aksesibilitas
Ukuran Font
Default