MTQ XXXIV Sulsel Digelar Usai Idul Fitri, Maros Siapkan Anggaran Rp7 Miliar
Kontributor
MAKASSAR, KEMENAG SULSEL – Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XXXIV Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan dijadwalkan berlangsung di Kabupaten Maros pada April 2026, atau setelah perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah.
Kabupaten Maros ditetapkan sebagai tuan rumah ajang keagamaan tingkat provinsi tersebut, setelah lebih dari tiga dekade tidak menyelenggarakan event dua tahunan ini.
Kesiapan Maros sebagai tuan rumah MTQ XXXIV Sulsel mengemuka dalam rapat koordinasi yang digelar di Toraja Room, Gedung A Lantai 1 Kantor Gubernur Sulawesi Selatan, Jalan Jenderal Urip Sumohardjo, Makassar, Kamis 15 Januari 2026.
Rapat tersebut dipimpin M. Hasyim mewakili Kabiro Kesra Setda Prov..Sulsel. Hadir Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Maros Amiruddin, Kepala Kanwil Kementerian Agama Sulsel yang diwakili Kepala Bidang Penerangan Agama Islam dan Pemberdayaan Zakat Wakaf (Penais) H. Mulyadi Iskandar, Kepala Kantor Kemenag Maros H. Nur Halik, serta Staf Khusus Gubernur Sulsel Bidang Keagamaan Ahmad Hidayat yang mengikuti secara daring.
Asisten I Pemkab Maros Amiruddin menegaskan kesiapan daerahnya menjadi tuan rumah MTQ tingkat provinsi. Pemerintah Kabupaten Maros, kata dia, telah menyiapkan anggaran sekitar Rp7 miliar, ditambah dukungan dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan sebesar Rp3 miliar.
“Maros siap menjadi tuan rumah. Seluruh persiapan teknis telah kami laporkan kepada Wakil Bupati Maros selaku Ketua LPTQ,” ujar Amiruddin.
Ia menjelaskan, persiapan meliputi akomodasi kafilah, transportasi, serta kesiapan venue lomba dengan melibatkan para camat, seluruh organisasi perangkat daerah (OPD), dan pemangku kepentingan terkait.
MTQ XXXIV Sulsel dijadwalkan berlangsung pada 10–18 April 2026. Rangkaian kegiatan diawali dengan registrasi peserta pada 10–11 April, pembukaan resmi pada 12 April, babak penyisihan pada 13–16 April, final pada 17 April, serta penutupan pada malam 18 April 2026.
“Pelaksanaan MTQ direncanakan sebelum dimulainya operasional ibadah haji,” tambah Amiruddin.
Sementara itu, Kepala Bidang Penais Kanwil Kemenag Sulsel, Mulyadi Iskandar, menekankan pentingnya kesiapan perangkat lomba, khususnya venue. Ia berharap lokasi lomba tidak menggunakan masjid agar tidak mengganggu pelaksanaan ibadah salat, kecuali jika tidak tersedia alternatif lain.
Selain itu, Mulyadi menekankan pentingnya kesiapan pemondokan bagi panitia dan kafilah dari 24 kabupaten/kota di Sulsel. Menurut dia, rumah-rumah penduduk dapat dimanfaatkan, namun perlu ditinjau terlebih dahulu sebelum pelaksanaan MTQ.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Kantor Kemenag Maros, Nur Halik, memaparkan makna logo MTQ XXXIV Sulsel yang memadukan tiga elemen utama, yakni Al-Qur’an, kupu-kupu, dan kubah Masjid Agung.
“Kubah Masjid Agung melambangkan kejayaan dan kemuliaan Islam, sayap kupu-kupu mencerminkan identitas dan kearifan lokal Maros, sedangkan mushaf terbuka menunjukkan Al-Qur’an sebagai sumber utama kegiatan MTQ,” jelasnya.
Ia juga mengimbau agar panitia teknis, baik pada pembukaan maupun pelaksanaan lomba, melibatkan aparatur sipil negara (ASN) Kementerian Agama atau pihak yang berpengalaman dalam penyelenggaraan MTQ, guna memastikan kegiatan berjalan optimal.
Dalam rapat tersebut dipastikan pula bahwa Pemerintah Kabupaten Maros akan menyiapkan berbagai fasilitas pendukung, mulai dari venue pembukaan dan penutupan, arena lomba, seragam resmi upacara, transportasi lokal, akomodasi kafilah, konsumsi bagi dewan hakim dan panitia, hadiah lomba, pameran pembangunan, pawai ta’aruf, hingga tenda pameran. (AB)