Daerah

Nilai Siri’ Na Pacce Ditegaskan Dalam Penguatan Kurikulum Madrasah Di Makassar

Foto Kontributor
Muhammad Imran

Kontributor

Rabu, 14 Januari 2026
...

Makassar (Kemenag Makassar) — Nilai kearifan lokal Siri’ na Pacce ditegaskan sebagai fondasi penting dalam penguatan karakter dan tata kelola madrasah di Kota Makassar. Penegasan tersebut mengemuka dalam Workshop Kurikulum Berbasis Cinta dengan Pendekatan Ekoteologi dan Kebudayaan yang digelar di Balai Diklat Keagamaan (BDK) Kementerian Agama Kota Makassar, Rabu (14/1/2025).

Workshop yang mengusung tema “Siri’ sebagai Etika Tata Kelola Madrasah dan Pacce sebagai Empati dan Tanggung Jawab” ini diselenggarakan oleh Yayasan Arus Cahaya Indonesia bekerja sama dengan Kementerian Agama Kota Makassar. Kegiatan diikuti oleh seluruh Kepala Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) se-Kota Makassar sebagai bagian dari upaya strategis memperkuat pendidikan karakter di lingkungan madrasah.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Makassar, H. Muhammad, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya workshop tersebut. Ia menegaskan bahwa Kementerian Agama saat ini tengah mendorong penguatan kurikulum yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pembentukan karakter peserta didik.

“Kurikulum yang sudah ada tidak untuk diganti, tetapi diperkuat. Yang kita tambahkan adalah nilai yang sangat mendasar dan dibutuhkan, yaitu cinta. Tanpa cinta, ilmu akan terasa hampa. Kurikulum cinta inilah yang menjadi ruh dari seluruh kurikulum yang ada,” ujar H. Muhammad.

Ia menjelaskan bahwa kurikulum berbasis cinta, yang di dalamnya mencakup konsep panca cinta, menjadi pendekatan untuk memperbaiki kualitas pendidikan melalui penguatan karakter, empati, dan tanggung jawab sosial, sejalan dengan nilai Siri’ na Pacce yang telah lama hidup dalam budaya masyarakat Sulawesi Selatan.

“Perbaikan kurikulum tidak cukup hanya dengan meninggikan aspek keilmuan. Tantangan generasi hari ini berbeda dengan generasi 20 atau 25 tahun lalu. Karena itu, Kementerian Agama hadir menawarkan kurikulum cinta sebagai roh pendidikan, agar ilmu dan karakter berjalan beriringan,” tegasnya.

Menurut H. Muhammad, madrasah memiliki peran strategis dalam menyiapkan Generasi Emas Indonesia 2045, sehingga penguatan karakter berbasis nilai keagamaan, budaya, dan kepedulian lingkungan menjadi sebuah keniscayaan.

“Anak-anak yang kita bina di madrasah hari ini adalah calon pemimpin masa depan. Jika sejak dini mereka dibekali ilmu, cinta, empati, dan tanggung jawab, maka insya Allah mereka akan menjadi generasi emas yang berakhlak, berdaya saing, dan berkeadaban,” tambahnya.

Workshop ini juga menjadi ruang refleksi bersama bagi para kepala madrasah untuk mengintegrasikan nilai ekoteologi, budaya lokal, dan kemanusiaan dalam praktik pendidikan sehari-hari, sekaligus memperkuat tata kelola madrasah yang beretika dan berorientasi pada kemaslahatan umat.

Melalui kegiatan ini, Kementerian Agama Kota Makassar berharap madrasah tidak hanya menjadi pusat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga pusat pembentukan karakter, nilai cinta, dan kepedulian sosial yang berdampak nyata bagi masyarakat.

Editor: Mawardi

Terpopuler

Terbaru

Menu Aksesibilitas
Ukuran Font
Default