Daerah

Refleksi Hari Pahlawan “Zaman Now” : Saatnya Jadi Pejuang Di Medan Pengabdian

Foto Kontributor
Onya Hatala

Kontributor

Senin, 10 November 2025
...

Oleh Muhammad Alimuddin Usman, S.Pd.I., M.Pd., C.ET., C.QEM

Penulis adalah Wakamad Humas MAN Gowa | Pimpinan Pesantren Babussalam Arrahmah | Ketua DPK BKPRMI Tompobulu | Wakil Ketua MUI Kecamatan Tompobulu


Hari ini, kita hidup di zaman yang serba mudah — pesan makanan cukup dari ponsel, belajar bisa dari layar, dan berbicara tanpa batas jarak. Tapi ada yang sering terlupa: dibalik semua kemudahan itu, berdiri kokoh jasa para pahlawan yang dulu rela menukar darah dengan kemerdekaan.

Mereka tidak lahir dari kemewahan, tapi dari ketulusan, keberanian, dan cinta tanah air. Dan kini, tugas kita bukan lagi mengangkat senjata — melainkan mengangkat martabat bangsa dengan ilmu, adab, dan karya.

Pahlawan zaman now bukan lagi mereka yang turun ke medan perang, tetapi mereka yang turun ke medan pengabdian. Yang berani jujur di tengah budaya tipu-menipu. Yang setia bekerja dengan hati, di saat banyak yang hanya mengejar pujian. Yang menebar inspirasi, bukan sensasi. Yang menjaga akhlak di dunia digital yang sering melupakan moral.

Sebagai insan pendidikan dan dakwah, saya yakin : kelas dan pesantren hari ini adalah medan juang baru. Guru, pembina, dan santri adalah pasukan perubahan. Setiap ayat yang dihafal, setiap pelajaran yang diajarkan, adalah peluru kebaikan untuk menembus gelapnya kebodohan.

Sebagai kader dakwah dan pemuda masjid, kita harus berani berkata: “Kami generasi penerus, bukan penikmat hasil perjuangan. Kami siap melanjutkan perjuangan para pahlawan dengan iman dan karya nyata!”

Mari, jadikan setiap langkah sebagai jihad kebaikan. Jadilah pelajar yang berani bermimpi besar, santri yang kuat imannya, pemuda yang tangguh mentalnya, dan warga bangsa yang mencintai negeri ini dengan perbuatan, bukan sekadar ucapan.

Ingatlah, bangsa ini tidak akan besar karena banyak bicara, tetapi karena banyak yang bekerja dan berkorban.

Hari Pahlawan bukan nostalgia, tetapi ajakan untuk menyalakan api juang di dada generasi muda.

Kita tidak perlu menjadi Dultan Hasanuddin, Syekh Yusuf Almakassary, Soekarno, Bung Tomo, atau Cut Nyak Dien — karena setiap dari kita bisa menjadi pahlawan versi diri sendiri asal mau berjuang dengan meneladani cinta, kerja keras, dan keikhlasan mereka para pahlawan itu.

Merdeka bukan akhir perjuangan, tapi awal dari tanggung jawab besar untuk menjaga Indonesia tetap beradab, berilmu, berkarakter, dan mandiri.

Editor: Mawardi

Terpopuler

Terbaru

Menu Aksesibilitas
Ukuran Font
Default