Tanpa Khotbah Panjang, Natal PUK Kemenag Tana Toraja Tekankan Pemulihan Keluarga Melalui Drama
Kontributor
Rembon (Kemenag Tana
Toraja) - Perayaan Natal Kemenag Kabupaten Tana Toraja tahun 2025 menghadirkan
pendekatan yang berbeda dari biasanya. Tanpa khotbah konvensional di mimbar,
pesan Natal disampaikan melalui sebuah pementasan drama berjudul “Tamu di Rumah
Sendiri”, yang digarap oleh para ASN Kementerian Agama dan ditampilkan pada
ibadah Natal Persekutuan Umat Kristen (PUK) di Gereja Toraja Jemaat Maulu,
Rembon (11/12/2025).
Pendekatan teaterikal
ini diambil untuk memperdalam refleksi tema nasional Natal 2025, “Allah Hadir
untuk Menyelamatkan Keluarga”. Di bawah pimpinan Ketua Panitia Melyanus Sapang,
drama tersebut menjadi sarana penyampaian pesan iman yang relevan dengan realitas
keluarga masa kini.
Drama “Tamu di Rumah
Sendiri”: Cermin Keluarga Modern
Pementasan yang ditulis
dan disutradarai oleh Andrew Pradhana Pangala ini menggambarkan kehidupan
keluarga modern yang mulai kehilangan kehangatan. Tokoh Yusuf (diperankan Frans
Linting Parantean) dan Maria (Eunike Quin Mala) digambarkan terjebak dalam rutinitas
dan gaya hidup hedonis.
Yusuf tenggelam dalam
pekerjaan, sementara Maria sibuk membangun citra sosialita.
Di tengah keluarga yang
semakin asing satu sama lain, hadir sosok Gabriella (Cecilia Tania Emanuella),
anak semata wayang yang merasa “seperti tamu di rumah sendiri”. Adegan yang
paling menggetarkan terjadi ketika Gabriella menyanyikan lagu “Ku Tak Dapat
Jalan Sendiri”—sebuah momen yang membuat banyak jemaat menitikkan air mata
karena menggambarkan realitas anak-anak yang merindukan kehadiran orang tua di
tengah derasnya tuntutan zaman.
Momen Reflektif Bersama
Sosok Opa
Titik balik cerita
muncul melalui karakter Opa (Andarias Sanda Kalalembang), ayah dari Yusuf.
Dengan bijak ia mengingatkan bahwa Yusuf dalam kisah Alkitab pun menghadapi
pergumulan berat, namun tetap setia menjalankan perannya sebagai pemimpin
keluarga.
“Jika Yesus diberi
tempat setiap hari dalam keluarga, tidak ada persoalan luar yang mampu
menghancurkan,” ujar Opa dalam dialog penutup yang menjadi inti pesan drama.
Kakan Kemenag: Keluarga
Adalah Pondasi Masyarakat
Kepala Kantor
Kementerian Agama Kabupaten Tana Toraja, H. Usman Senong, menyampaikan
apresiasi atas penyampaian pesan Natal melalui seni peran. Menurutnya, drama
tersebut menyingkap isu sosial yang sangat mendasar.
“Drama ini mengajak
kita melihat ulang kehidupan pribadi. Kehadiran Tuhan di rumah adalah kunci
keteguhan keluarga. Banyak persoalan masyarakat sesungguhnya berakar dari rumah
yang rapuh,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa
perayaan Natal Kemenag bukan hanya seremoni tahunan, tetapi ruang refleksi
untuk memperkuat kehidupan keluarga sebagai pusat pembentukan karakter.
Bupati Tana Toraja:
Teknologi Maju, Mentalitas Harus Siap
Dalam kesempatan yang
sama, Bupati Tana Toraja, dr. Zadrak Tombeg, memberikan pandangan terkait
tantangan zaman. Ia menyoroti gambaran orang tua sibuk dalam drama sebagai
potret masyarakat yang belum siap menghadapi cepatnya kemajuan teknologi.
“Teknologi berkembang
lebih cepat daripada kesiapan mental kita. Karena itu, kearifan dalam
menggunakan media sangat penting agar teknologi tidak menjauhkan yang dekat,”
ujarnya.
Bupati juga menegaskan
bahwa keluarga harus menjadi sumber kedamaian. “Jika ada hal buruk, termasuk
bullying, keluarga harus hadir membawa damai. Jangan membiarkan masalah
dibiarkan begitu saja.”
Seni Peran yang Menjadi
Mimbar
Perayaan Natal Kemenag ini membuktikan bahwa pewartaan tidak selalu harus melalui khotbah panjang. Melalui latihan intensif selama dua minggu, para pegawai Kemenag berhasil menyuguhkan sebuah drama yang bukan hanya menghibur, tetapi menyentuh batin dan membuka kesadaran jemaat untuk kembali mengokohkan keluarga.
Drama “Tamu di Rumah
Sendiri” menjadi penegas bahwa pesan Natal—hadirnya Allah untuk menyelamatkan
keluarga—dapat disampaikan dengan cara kreatif, relevan, dan lebih dekat dengan
pengalaman hidup umat. (AP)