Ubah Paradigma : "Zakat Itu Kewajiban", Jadi "Zakat Itu Kebutuhan"
Kontributor
Selama ini, banyak orang menunaikan zakat karena merasa terbebani oleh kewajiban, bukan karena menyadari kebutuhan. Padahal, hakikat zakat bukan sekadar aturan syariat yang harus ditaati, tetapi sarana penyucian jiwa, pembersih harta, dan sumber kebahagiaan hakiki.
Ketika seseorang berzakat karena merasa wajib, ia hanya menggugurkan kewajiban.
Namun ketika ia berzakat karena merasa butuh, maka zakat itu menjadi penguat ruhani, penyejuk hati, dan penarik keberkahan hidup.
Zakat bukan sekadar angka yang keluar dari harta, tetapi aliran rahmat yang membersihkan diri dari keserakahan dan menghubungkan hati dengan sesama.
Setiap rupiah yang dikeluarkan bukanlah kehilangan, melainkan penambahan nilai di sisi Allah, karena zakat adalah investasi spiritual yang tak pernah rugi.
Sebagaimana dikatakan oleh Prof. Dr. H. Hamzah Khaeriyah, M.Ag, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Syariah UIN Alauddin Makassar dalam satu kesempatan pelatihan Konsultan Zakat:
“Orang pertama yang merasakan kebaikan dan manfaat dari zakat adalah orang yang berzakat itu sendiri, bukan penerima zakatnya.”
Ungkapan ini menegaskan bahwa zakat sejatinya adalah jalan kebahagiaan bagi muzakki — jalan untuk menenangkan hati, menumbuhkan empati, dan menjemput keberkahan rezeki.
Sebab saat kita memberi, sesungguhnya kitalah yang sedang disembuhkan dari penyakit cinta dunia dan ketakutan akan kekurangan.
Pesantren Babussalam Arrahmah terus menggerakkan edukasi umat agar para aghniya memahami bahwa berzakat bukan beban, melainkan anugerah.
Zakat adalah kebutuhan ruhani bagi hati yang ingin bersih, bagi harta yang ingin berkah, dan bagi kehidupan yang ingin penuh makna.
Maka mari kita ubah cara pandang kita:
Bukan lagi “Saya berzakat karena saya wajib,” tetapi “Saya berzakat karena saya butuh.”
Karena sesungguhnya, zakat bukan sekadar perintah syariat, tetapi panggilan jiwa menuju keberkahan dan ketenangan hidup. “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.” (QS. At-Taubah: 103)