Daerah

Workshop Kurikulum Berbasis Cinta Di Panaikang, H. Misbah: Anak Pintar Saja Tidak Cukup

Foto Kontributor
Humas Bantaeng

Kontributor

Selasa, 10 Februari 2026
...

Bantaeng (Kemenag Bantaeng) — H. Misbah, S.Ag., MA., menekankan pentingnya Kurikulum Berbasis Cinta sebagai bingkai nilai dalam proses pendidikan madrasah.

“Kenapa cinta ini dibuatkan kurikulum? Bapak Menteri sekiranya mengatakan begini, kurikulum itu ibarat bingkai. Cintanya ada di dalam bingkai. Kalau bingkainya rapi, tetapi isinya keluar dari bingkai, maka itu tidak indah dipandang,” tutur H. Misbah saat menyampaikan sambutan pada Workshop Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta dan Integrasi Pembelajaran Mendalam di MTs Muhammadiyah Panaikang, Selasa (10/2/2026).

Ia menjelaskan, Kurikulum Berbasis Cinta merupakan harapan Menteri Agama agar seluruh proses pembelajaran tidak terlepas dari nilai rahman dan rahim Allah Swt.

“Kurikulum berbasis cinta yang diharapkan Bapak Menteri adalah kurikulum yang materi apa pun di dalamnya tidak boleh lepas dari nilai kasih sayang,” ujarnya.

Lebih lanjut, H. Misbah menegaskan bahwa salah satu fondasi utama dalam Kurikulum Berbasis Cinta adalah cinta kepada Allah. Menurutnya, pendidikan tidak hanya bertujuan melahirkan anak-anak yang cerdas, tetapi juga anak-anak yang memiliki kebenaran dalam sikap dan perilaku.

“Di era sekarang, kita tidak terlalu banyak membutuhkan anak yang pintar. Yang kita butuhkan adalah anak yang benar. Sebab, anak pintar tetapi tidak memiliki nilai kebenaran bisa saja menipu orang tuanya,” tegasnya.

Ia menambahkan, nilai ketauhidan harus menjadi dasar utama dalam pendidikan. Oleh karena itu, cinta kepada Allah ditempatkan sebagai prioritas dalam konsep panca cinta.

“Kita arahkan anak-anak kita menjadi anak yang benar. Cinta kepada Allah dalam panca cinta perlu dikenalkan sejak dini agar anak mengenal Tuhannya,” tuturnya.

Dalam kesempatan tersebut, H. Misbah juga mengisahkan sebuah riwayat tentang Rasulullah saw. yang menangis karena kekhawatirannya terhadap umatnya.

“Nabi menangis bukan karena kemiskinan atau cercaan kaum Quraisy, tetapi karena khawatir umatnya kelak jaya dari segi ilmu dan harta, namun meninggal dunia tanpa iman,” ungkapnya.

Ia menekankan bahwa jika seorang siswa mampu mencintai hal-hal gaib seperti Allah, maka akan lebih mudah baginya untuk mencintai sesama manusia dan memberi manfaat bagi lingkungannya.

Workshop ini diikuti oleh para guru dari empat madrasah, yaitu MIS Darul Ilmi Parassula, MTs Muhammadiyah Panaikang, MAS Muhammadiyah Panaikang, dan MA Ma’arif Panaikang.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kemenag Bantaeng, Dr. Salam, S.Ag., S.Pd., M.Pd., serta para Pengawas Bina Madrasah Nasiruddin, S.Ag., Hj. Sunarti, S.Pd., M.Pd., dan Sukmawati, S.Si., M.Pd. Hadir pula para kepala madrasah dari keempat satuan pendidikan tersebut. (MSD)

Editor: Andi Baly

Terpopuler

Terbaru

Menu Aksesibilitas
Ukuran Font
Default