20 September 2019
Kemenag Inisiasi Masjid Ramah Anak dan Disabilitas

Kemenag Inisiasi Masjid Ramah Anak dan Disabilitas

Makassar, (Inmas Sulsel). Kementerian Agama (Kemenag) saat ini,  tengah menginisiasi sebuah program dengan nama masjid ramah anak,   dan penyandang disabilitas (berkebutuhan khusus), sebagai upaya memakmurkan masjid.

Hal ini dikatakan Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah,  Drs. H. Moh. Agussalim, M.Pd., saat menyampaikan materi pada acara Pembinaan Paham Keagamaan bagi Takmir Masjid di Makassar Provinsi Sulawesi-Selatan, di Novotel Makassar Grand Shayla City Centre,  Kamis 19 September 2019.

Menurut  Direktur,  saat ini masjid belum ramah bagi anak dan mereka yang berkebutuhan khusus (disabilitas). ‘’Anak-anak kita dan mereka yang disabilitas,  belum memfungsikan masjid dengan sebaik-baiknya sebagai tempat beribadah,  dan  aktivitas-aktivitas lain yang bermanfaat,  dalam rangka pengembangan syiar Islam ke depan,’’  kata Moh. Agussalim.

Dikatakan, Direktorat Bimas Islam Kemenag,  yang salah satu Subditnya menangani Kemasjidan, lalu menggagas program masjid ramah anak, dan yang berkebutuhan khusus, karena terus terang masjid belum ramah bagi kaum disabilitas.  

‘’Jangan sampai masjid kita dikuasai oleh orang lain,’’ tandas Direktur pada acara yang mengambil tema  ‘’Peningkatan Kualitas Layanan Keagamaan bagi Disabilitas Berbasis Masjid’’.

Olehnya itu, Direktur berpesan kepada para takmir (pengurus) masjid,  untuk meramaikan (memakmurkan)  masjid.  ‘’Dorong anak-anak untuk meramaikan masjid. Dengan mereka rajin ke masjid,  mereka akan terhindar dari paham-paham keagamaan yang tidak baik (menyimpang atau melenceng), buka masjid-masjid kita, mushallah-mushallah kita yang ada, sehingga umat Islam dari berbagai kalangan,  termasuk anak-anak dan mereka yang berkebutuhan khusus,  bisa masuk melakukan ibadah dan aktivitas-aktivitas lain yang bermanfaat  untuk pengembangan Islam,’’ jelas Moh. Agussalim.

Dia berharap, tidak ada lagi masjid atau mushallah yang menerapkan aturan yang melarang anak-anak ke masjid,  termasuk kalangan disabilitas, karena hal ini akan berdampak terhadap masa depan masjid sendiri, kalau bukan anak-anak sekarang mengisi masjid siapa lagi, dan   setelah besar akan menjadi kebiasan yang dibawa dari kecil.

Persoalannya kemudian,  lanjut mantan Kakanwil Provinsi Banten ini,  bagaimana pengurus masjid atau para takmir,  memfasilitasi anak-anak dan mereka yang berkebutuhan khusus,  seperti tuna netra, tuna daksa dan lain-lainnya,  untuk lebih mudah mendapatkan akses/layanan,  ke masjid.

Dikatakan Direktur, pada zaman Rasulullah, masjid tempat berkumpul membahas soal-soal agama, starategi perang dan  syiar Islam yang lebih baik. Sekarang, lanjutnya,  kita akan mengembalikan fungsinya seperti dulu.

‘’Jangan samapai masjid kita tutup,  karena tidak ada lagi anak muda yang mau masuk, perhatikan pendidikan anak-anak, pantau   pengajiannya,   jangan sampai ada hal-hal yang berbau radikal.  ‘’Kalau ada begitu silahkan laporkan,’’ katanya.

Pengurus masjid juga harus ramah dengan anak-anak, calon pengisi masjid kita masa depan, para takmir harus melakukan hal-hal atau kegiatan yang bisa menjadikan anak tertarik pada masjid.

‘’Teman-teman disabilitas, berikan ruang untuk mereka. Jangan sampai kita bangun masjid besar,  tapi tidak melibatkan mereka. Ramai-ramai mendekati masjid, kuatkan akidah mereka, bina ukhuwah islamiyah dan tingkatkan amaliyah kita.’’  Papar Direktur.

Beberapa program yang menjadi unggulan Dit. Urais dan Binsyar, katanya, seperti program hisab rukyat syariah, kepustakaan Islam, kemasjidan dan bina paham keagamaan Islam dan penanganan konflik,  semua dimaksudkan sebagai upaya untuk lebih mematangkan,  dan menghindari hal-hal yang akan mengancam keutuhan berbangsa dan bernegara,  dengan memperbanyak dialog melibatkan remaja masjid,  untuk terwujudnya masyarakat yang rukun dan taat beragama.

Sebelumnya Kasubdit Kamasjidan, Siti Nur Azizah, mengatakan, Kemenag terus mengembangkan akses layanan paham keagamaan bagi penyandang  disabilitas. ‘’Program baru ini, adalah agar masjid ramah terhadap para disabilitas,’’ katanya sambil menambahkan bahwa layanan bagi disabilitas daksa untuk pertama kalinya dilakukan dengan menggunakan kursi roda masuk ke masjid Istiqlal, Jakarta pada Idul Adha yang lalu.

Sementara itu,  Abd. Rahman, S.Pd., dari Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (Perdik) Sulsel,  mengatakan, para takmir masjid harus menepis anggapan ketidakmampuan penyandang disabilitas dengan menyiapkan  akses ke masjid.

‘’Perlu disain masjid yang baik yang bisa dijangkau, teman-teman penyandang disabilitas,’’ katanya.

Selain Direktur, hadir  menyampaikan materi pada kegiatan yang berlangsung Rabu hingga Jumat (18-20 September 2019),  di antaranya   Kakanwil Kemenag Sulsel. H Anwar Abubakar, S.Ag, M.Pd, Kepala Biro Kesra Setda Provinsi Sulsel, H. Suherman, SE, MM,   Ketua Dpt. Dakwah PP DMI, yang juga penulis 46 buku Masjid Dakwah dan Keislaman, Drs. H. Ahmad Yani. (dir)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dibaca : 76 kali

0 Komentar