Daerah

Cintai Al-Quran Sejak Dini, 246 Santri Ikuti Wisuda TPA Se-Kecamatan Bantaeng

Foto Kontributor
Humas Bantaeng

Kontributor

Jumat, 30 Januari 2026
...

Bantaeng (Kemenag Bantaeng) – Suasana riuh bercampur haru menyelimuti Balai Kartini Bantaeng saat Wisuda Santri dan Santriwati Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) se-Kecamatan Bantaeng digelar, Kamis, 29 Januari 2026. Sebanyak 246 anak mengikuti prosesi wisuda yang menjadi penanda awal perjalanan mereka dalam mencintai dan mengamalkan Al-Qur’an.

Kegiatan tersebut turut dihadiri para pembina TPA yang memberikan dukungan dan semangat kepada para santri dan santriwati yang pada kesempatan tersebut semakin memantapkan kecintaannya kepada Al-Qur’an.

Dalam sambutannya, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bantaeng, H. Misbah, menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas terselenggaranya kegiatan tersebut.

“Alhamdulillah tentu saya sebagai Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bantaeng mengucapkan terima kasih banyak dan menyambut baik atas pelaksanaan kegiatan yang kita lakukan pada hari ini,” ucapnya mengawali sambutan.

Ia menegaskan bahwa wisuda santri merupakan momentum yang sangat berharga dalam pembinaan generasi Qur’ani.

“Momentum seperti ini atau momen-momen seperti ini adalah satu hal yang sangat luar biasa, mengapa? karena anak-anak kita menjalani fase-fase kehidupannya itu ditempa khususnya di dalam pembinaan Al-Quran,” sambungnya.

H. Misbah juga menjelaskan bahwa para santri yang diwisuda telah melalui proses pembelajaran dan evaluasi yang terukur.

“Tadi sudah dilaporkan oleh Bapak Kepala KUA bahwa yang akan diwisuda pada hari ini memang sudah lulus tentu melalui proses ujian, ya dia membaca Al-Quran secara pasti, saya kira hafal surat-surat pendek juga doa-doa harian. Ini memang salah satu muatan dari materi yang disediakan di setiap TPA Atau TKA,” tuturnya.

Lebih lanjut, ia menekankan tiga hal penting yang perlu diperhatikan oleh para guru TPA dalam mendidik santri. Pertama, pentingnya merujuk pada kurikulum yang telah ditetapkan.

“Sebagai guru tentu ada tiga hal yang harus dikerjakan Di dalam pembinaan TPA kita yang pertama di dalam pembinaan TPA tentu kita melihat Kurikulum yang diajarkan,” ungkapnya.

“Ya Jadi itu memang secara estimasi sudah diatur ada tahapan-tahapan yang diajarkan berapa tahun atau berapa bulan ia mempelajari tahapan-tahapan itu dan ini harus kita merujuk kepada kurikulum yang sudah ada,” lanjutnya.

Kedua, kompetensi guru dalam membaca dan mengajarkan Al-Qur’an menjadi hal yang sangat krusial.

“Hal kedua yang terpenting adalah kompetensi Sebagai seorang guru Ini sangat penting. Kenapa? Oleh karena anak-anak TPA saat inilah dia mendengarkan informasi awal. Jadi anak-anak kita dalam usia seperti ini pembacaan Al-Quran makhorijul huruf atau kepastian dalam membaca Al-Quran,” jelasnya.

“Maka di sinilah awal mereka-mereka ini mendengar. Oleh karena itu seorang guru yang mengajarkan Al-Quran di TPA adalah betul-betul dia harus baik cara membacanya, sebab kalau di hari ini dia mendengarkan pembacaan yang kurang pas maka itu yang akan terbawa selamanya, siapa yang akan mengajar harus kita lihat bagaimana kompetensinya di dalam mengajarkan,” sambung H. Misbah.

Ketiga, keteladanan guru dalam sikap dan tutur kata, mengingat anak-anak berada pada fase merekam apa yang mereka lihat dan dengar.

“Hal yang ketiga adalah karena anak-anak kita ini ibarat kaset kosong maka Apa yang dia lihat, apa yang dia dengar, apa yang dia rasa itu langsung terekam. Oleh karena itu siapa yang menempa anak-anak kita ini harus memberikan teladan yang terbaik,” tuturnya.

“Sebab dia merekam bagaimana ketika gurunya bertutur kata. Kalau gurunya setiap menyapa anak-anaknya ada kalimat-kalimat yang lemah-lembut, ada kalimat mengandung makna sayang di dalamnya maka itu yang akan terekam,” lanjutnya.

Pada kesempatan tersebut, H. Misbah juga menanamkan makna filosofis kata santri kepada para peserta. Menurutnya, santri terdiri dari lima huruf yang masing-masing mengandung nilai.

“Sin itu bermakna pelopor kebaikan. Ajarkan anak-anak santri kita untuk menjadi pelopor kebaikan dimana pun mereka berada, baik di sekolah maupun di keluarganya,” jelasnya.

“Kemudian yang kedua ada huruf Nun. Nun itu artinya Penerus para ulama ajarin anak-anak kita Ilmu yang dia miliki kalau bisa dia juga ajarkan kepada adiknya di rumah. Kemudian yang ketiga ini penting anak-anak kita untuk meninggalkan kemaksiatan,” ungkapnya.

“Lalu yang keempat ada huruf Ra yang bermakna Rido. Ajarkan anak-anak kita bahwa niat kita untuk belajar Al-Quran adalah untuk mendapatkan Rida Allah Subhanahu Wa Ta’ala,” jelasnya.

“Kemudian yang kelima ada huruf Iyah, yaitu bermaina yakin bahwa segala yang dilakukan oleh anak santri kita harus berdasarkan keyakinan, bahwa apa yang kita lakukan ini mendapat pahala dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala,” lanjutnya.

Di akhir sambutan, H. Misbah berharap para santri kelak menjadi penolong bagi kedua orang tuanya di akhirat.

“Insya Allah anak-anak kita nanti akan menjadi syafa’at dari Allah karena kita telah memberi pendidikan kepada anak-anak kita,” tutupnya.

Sementara itu, Staf Ahli Bidang Sosial Kemasyarakatan Pemda Bantaeng, H. Muslimin, yang mewakili Bupati Bantaeng, menyampaikan harapan agar wisuda ini menjadi awal, bukan akhir, dalam mempelajari Al-Qur’an.

“Kami berharap bahwa wisuda hari ini bukan akhir, tetapi, awal untuk anakku sekalian mempelajari Al-Qur’an,” tuturnya.

Dalam sambutan Bupati Bantaeng yang dibacakannya, H. Muslimin menyampaikan rasa syukur, bangga, dan haru atas capaian para santri.

“Saya menyampaikan rasa syukur, bangga, dan haru melihat anak-anakku santri dan santriwati yang hari ini diwisuda. Kalian adalah anak-anak pilihan, kenapa? Karena mungkin dari sekian anak-anak Bantaeng hanya 246 yang ikut wisuda hari ini. Artinya anda ini adalah anak-anak pilihan,” ujarnya.

Ia menegaskan pentingnya Al-Qur’an sebagai pedoman hidup serta mendorong para santri untuk terus belajar dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

“Dari TPA inilah Insya Allah akan lahir generasi yang sholeh dan sholehah, generasi yang menjaga akidahnya, memperindah akhlaknya, dan menebarkan kebaikan di tengah masyarakat,” ungkapnya.

Sebelumnya, Kepala KUA Kecamatan Bantaeng, Abustam, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut. Ia juga memohon maaf apabila terdapat kekurangan.

Abustam mengungkapkan bahwa dari 246 santri yang diwisuda, beberapa di antaranya akan mewakili Kabupaten Bantaeng pada ajang Munaqosah tingkat Provinsi Sulawesi Selatan.

“Peserta yang ikut dalam wisuda santri ini sebanyak 246 orang. Kemudian diikuti oleh 29 TPA se-Kecamatan Bantaeng. Kemudian ada perwakilan juga 4 sekolah dasar di Kecamatan Bantaeng. Harapan kami anak-anakku tidak berhenti belajar Al-Qur’an setelah diwisuda,” ungkapnya.

Wisuda santri ini turut dihadiri Sekretaris Kecamatan Bantaeng mewakili Camat, Kasubbag Tata Usaha Kemenag Bantaeng Sopyan Yasri, para pegawai KUA Kecamatan Bantaeng, serta para pembina TPA se-Kecamatan Bantaeng. (MSD)

Editor: Andi Baly

Terpopuler

Terbaru

Menu Aksesibilitas
Ukuran Font
Default