Daerah

Menjaga Warisan Sanad Al-Quran Dari Tanah Mangkoso

Foto Kontributor
Arga Probowisesa

Kontributor

Jumat, 30 Januari 2026
...

Mangkoso (Kemenag Barru) -- Daurah Qira’ah Sab’ah Bersanad Muttashil yang digelar di Ma’had Aly DDI Mangkoso resmi ditutup pagi ini (29/01/26). Kegiatan yang awalnya dijadwalkan berlangsung pada 7–14 Januari 2026 tersebut diperpanjang karena kuatnya antusiasme peserta dan kesediaan murabbi untuk terus mengawal para santri dalam proses pendalaman qira’ah Al-Qur’an.

Daurah ini menghadirkan Syekh H. Salah Zakiy Ibrahim al-Qadiry al-Hasanainiy, pakar Qira’ah Sab’ah dari Al-Azhar Al-Syarif University Cairo. Kehadiran ulama internasional tersebut menjadikan Mangkoso sebagai ruang pertemuan sanad global, tempat ilmu Al-Qur’an disampaikan bukan hanya melalui teori, tetapi melalui talaqqi, adab, dan kesinambungan keilmuan.

Ketua Panitia, Aydi Syam, menyampaikan bahwa perpanjangan waktu daurah terjadi secara alami, seiring keinginan Syekh untuk terus mendukung para santri. “Kegiatan ini berlangsung lebih lama dari jadwal karena Syekh masih berkenan berlama-lama di Mangkoso. Kita syukuri, banyak mondar-mandir para syekh, datang dan pergi, semuanya membawa kebaikan,” ungkapnya.

Menurutnya, menghadirkan ulama sekaliber Syekh Salah Zakiy adalah prestasi yang luar biasa mengingat dengan keilmuan yang dimiliki beliau setara dengan tokoh agenda-agenda tingkat pusat. “Alhamdulillah, justru pesantren yang bisa menghadirkan beliau,” tambahnya.

Dalam penyampaiannya, Syekh Prof. Dr. H. Salah Zakiy Ibrahim al-Qadiry al-Hasanainiy menekankan bahwa Qira’ah Sab’ah bukan ruang untuk memperdebatkan kebenaran, tetapi jalan untuk menjaga kemurnian Al-Qur’an.

“Saya sudah lebih dari 40 tahun berkhidmat dalam Al-Qur’an. Jangan berselisih tentang orisinalitas dan otentisitasnya, apalagi memecah belah dengan mengatakan ‘ini bacaan yang benar yang mana’. Semua qira’ah itu benar, karena rujukan utamanya adalah cara Rasulullah ﷺ membaca Al-Qur’an,” tegasnya.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Barru, H. Irman, mengaku takjub melihat capaian para santri dalam waktu singkat. Ia merefleksikan perkembangan pembinaan Al-Qur’an yang terus meningkat dari masa ke masa. “MTQ itu sudah naik tangga. Dulu hanya menghafal dan tilawah. Saya sendiri pernah merasakan dua tahun proses sampai bisa hafal Al-Qur’an. Hari ini, ahlinya langsung dipanggil ke sini,” ujarnya.

Ia juga mengakui kehebatan DDI Mangkoso dalam terus mengembangkan metode pembelajaran Al-Quran, hingga ada yang sudah bisa menghafal beberapa juz dalam waktu singkat. Ini jugalah yang menjadi bukti kekuatan pesantren akan terlihat karena kedekatannya kepada Al-Qur’an. "Cahaya Allah ada pada Al-Qur’an. Pesantren yang menjaga Al-Qur’an tidak akan mati. Barakka monro Mangkoso,” tutur H. Irman penuh haru.

Pimpinan DDI Mangkoso, H. M. Faried Wadjedy, menutup rangkaian kegiatan dengan mengingatkan agar jangan khawatir dan takut jika tidak semua hasil dari proses akan dirasakan secara instan. “Kalian akan tahu berkahnya setelah meninggalkan Mangkoso. Sekarang mungkin masih bertanya akan jadi apa nanti,” ucapnya.

Ia menutup dengan menegaskan pentingnya kesungguhan belajar dan menjadikan Al-Qur’an sebagai pegangan. “Belajarlah sungguh-sungguh. Ingat, man jadda wajada. Tempat ini penuh berkah dan kebaikan. Orang tua anda menitipkan anaknya ke sini karena mencari itu", tambahnya mengakhiri.

Penutupan Daurah Qira’ah Sab’ah Bersanad Muttashil ini memperlihatkan peran DDI Mangkoso dalam ruang penjagaan sanad Al-Qur’an. Karena pesantren adalah salah satu benteng utama dimana bacaan suci ini terus dijaga, disambung, dan diwariskan, agar cahaya Al-Qur’an tetap hidup dari generasi ke generasi.(Arga)


Editor: Andi Baly

Terpopuler

Terbaru

Menu Aksesibilitas
Ukuran Font
Default