Ekoteologi Pondok Pesantren Yasrib Soppeng Sulawesi Selatan
Kontributor
Mutaillah (Guru MAN 2 Kota Makassar, Alumni PP. Yasrib Soppeng Sulsel)
Lembaga pendidikan Islam, khususnya pondok pesantren, memegang peran strategis dalam membentuk generasi yang tidak hanya unggul secara spiritual, tetapi juga mampu merespons tantangan zaman, termasuk isu krusial seperti pelestarian lingkungan. Pesantren, sebagai institusi yang mengakar kuat di masyarakat, memiliki potensi besar untuk menjadi motor penggerak perubahan melalui internalisasi nilai-nilai keagamaan ke dalam aksi nyata.
Islam mengajarkan pentingnya kebersihan, bahkan di dalam hadis disebutkan bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman. Pernyataan ini menegaskan bahwa praktik menjaga kebersihan bukanlah sekadar kegiatan seremonial, melainkan sebuah amalan yang berakar pada keyakinan teologis.
Ekoteologi merupakan sebuah kerangka berpikir yang mengintegrasikan ajaran teologis dengan etika lingkungan, memandang bahwa kepedulian terhadap alam adalah bagian tak terpisahkan dari spiritualitas. Dalam konteks Islam, prinsip-prinsip fundamental ini sering kali diwujudkan dalam praktik keseharian yang sederhana namun sarat makna, seperti menjaga kebersihan, mengelola sumber daya alam, dan memelihara keseimbangan ekosistem.
Pondok Pesantren Yasrib Soppeng dua tahun berturut-turut (2024-2025) menorehkan prestasi gemilang dengan meraih juara pertama dalam lomba kebersihan antar sekolah/ madrasah. Baik Madrasah Tsanawiyah (MTs) maupun Madrasah Aliyah (MA) di lingkungan pesantren ini berhasil menyabet posisi puncak. Dengan demikian, prestasi ini menjadi titik awal yang konkret untuk memahami implementasi ekoteologi di tingkat pesantren.
Di Pondok Pesantren Yasrib Soppeng, hadis populer At-Ṭahūru syaṭr al-īmān, menjadi pilar utama praktik ekoteologi. Hal ini mengubah tindakan menjaga kebersihan dari sekadar urusan sanitasi menjadi sebuah manifestasi keimanan. Pendekatan ini secara strategis sangat efektif sebagai alat pedagogis karena bersifat nyata, menuntut praktik harian yang konsisten, dan secara langsung menghubungkan tindakan fisik dengan identitas spiritual seorang santri. Inisiatif kebersihan yang digalakkan di Yasrib dapat dibingkai sebagai wujud nyata dari dakwah bil hal (dakwah melalui perbuatan), yang secara efektif mencerminkan nilai Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam).
Tujuan utama dari gerakan kebersihan ini bukanlah untuk memenangkan kompetisi semata, melainkan untuk menanamkan budaya bersih sebagai karakter dan amalan harian yang berakar kuat pada keyakinan agama. Pendekatan ini memastikan bahwa kesadaran ekologis tidak bersifat sementara, melainkan menjadi bagian integral dari identitas dan akhlak setiap santri. Dengan demikian, praktik menjaga kebersihan menjadi langkah fundamental yang menghubungkan ajaran inti agama dengan tanggung jawab ekologis, sebuah model yang menjadi gerbang pembuka dalam spektrum gerakan ekopesantren yang lebih luas.
Pada akhirnya, Pondok Pesantren Yasrib Soppeng sebagai institusi pendidikan Islam yang mengakar kuat di tengah masyarakat, memiliki posisi yang unik dan strategis untuk menumbuhkan kesadaran serta aksi nyata peduli lingkungan. Keberhasilannya dalam kompetisi kebersihan merupakan implementasi ekoteologi yang bersifat akar rumput, karena mentransformasikan praktik harian menjadi sebuah tindakan bernilai teologis. Dengan mengaitkan tindakan menjaga kebersihan secara langsung dengan pilar keimanan, pesan yang disampaikan menjadi sangat kuat, relevan, dan mudah terinternalisasi. Pendekatan ini menunjukkan bahwa aksi peduli lingkungan tidak harus dimulai dari konsep yang rumit, tetapi dapat berawal dari praktik harian yang dilandasi keyakinan spiritual.