Kakankemenag Makassar Tekankan Peran Rumah Ibadah Dan Pendidikan Dalam Penguatan Kerukunan Umat Beragam
Kontributor
Makassar-(Kemenag Makassar) -- Kakankemenag Kota Makassar, H. Muhammad, menegaskan pentingnya peran rumah ibadah, lembaga pendidikan, dan penyuluh agama dalam memperkuat resiliensi kerukunan umat beragama di Kota Makassar. Hal tersebut disampaikannya saat menjadi narasumber pada Rapat Kerja Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Makassar, yang digelar di Hotel Alauddin Makassar, Senin (15/12/2025).
Rapat kerja FKUB ini mengusung tema “Memperkuat Ekosistem dan Pemajuan Kebijakan Inklusi Daerah” dan dihadiri langsung oleh Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin, jajaran Forkopimda, pimpinan OPD, pengurus FKUB, ketua organisasi masyarakat lintas agama, serta tokoh pemuda.
Dalam pemaparannya, H. Muhammad menyoroti masih adanya tantangan dalam kehidupan sosial masyarakat, terutama sikap eksklusif dan kurangnya interaksi antarumat beragama. Ia menyebutkan bahwa Kota Makassar memiliki lebih dari 1.700 rumah ibadah, yang seharusnya menjadi pusat penyebaran nilai moderasi dan toleransi.
“Rumah ibadah adalah kekuatan besar. Jika para tokoh agama menyampaikan pesan moderasi, maka umat akan mengikuti. Namun sebaliknya, jika yang diajarkan adalah sikap ekstrem dan intoleran, dampaknya sangat berbahaya bagi kehidupan sosial,” tegasnya.
Selain rumah ibadah, Kakankemenag juga menekankan pentingnya peran madrasah, sekolah umum, sekolah minggu, taman pendidikan Al-Qur’an, majelis taklim, serta lembaga pendidikan keagamaan nonformal lainnya dalam membentuk karakter generasi muda yang toleran dan inklusif.
Ia menambahkan bahwa Kementerian Agama Kota Makassar memiliki jaringan penyuluh agama lintas agama yang siap berkolaborasi dengan pemerintah daerah dan FKUB untuk mengampanyekan moderasi beragama secara berkelanjutan.
Sebagai langkah konkret, Kemenag mendorong pelaksanaan kegiatan lintas iman, seperti lomba dan event moderasi beragama antar sekolah, serta program kunjungan siswa ke rumah ibadah agama lain sebagai bagian dari kegiatan ekstrakurikuler.
“Banyak anak-anak kita hidup bertetangga, tetapi belum pernah saling mengunjungi rumah ibadah. Padahal, pengalaman langsung ini penting agar mereka terbiasa hidup berdampingan dan saling memahami,” ujarnya.
Menurutnya, penguatan moderasi beragama sejak dini menjadi kunci menjaga stabilitas sosial, yang berdampak langsung pada keamanan, keharmonisan masyarakat, dan iklim investasi di Kota Makassar.
Sementara itu, Ketua FKUB Kota Makassar Prof. Arifuddin Ahmad menjelaskan bahwa rapat kerja ini merupakan agenda rutin untuk mengevaluasi program tahun 2025 dan menyusun rencana kerja tahun 2026. Ia mengakui bahwa meski Makassar dikenal sebagai kota moderat dan telah meraih Harmony Award, masih terdapat sejumlah aspek yang perlu diperbaiki, termasuk belum adanya regulasi daerah khusus tentang kerukunan umat beragama.
Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin dalam sambutannya menyatakan dukungan penuh Pemerintah Kota Makassar terhadap FKUB dan Kementerian Agama. Ia menegaskan bahwa kerukunan umat beragama merupakan fondasi utama bagi stabilitas sosial dan masuknya investasi ke daerah.
“Kalau harmoni tidak terjaga, dampaknya sangat besar. Bukan hanya sosial, tapi juga ekonomi dan masa depan generasi muda,” ujarnya.
Melalui rapat kerja ini, FKUB bersama Kementerian Agama dan Pemerintah Kota Makassar berkomitmen memperkuat kolaborasi lintas sektor untuk mewujudkan Makassar sebagai kota yang inklusif, toleran, aman, dan harmonis bagi seluruh umat beragama.