Daerah

Mengapa Maksiat Tetap Terjadi Di Bulan Ramadan? Memahami Konsep Tashfid Al-Syayathin

Foto Kontributor
Muhammad Imran

Kontributor

Jumat, 20 Februari 2026
...

Oleh :

Mutaillah (Guru Man 2 Kota Makassar)


Kita sering mendengar hadis populer bahwa di bulan Ramadan, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. 

Namun, realitas di lapangan sering kali memicu pertanyaan kritis:

"Jika musuh utama kita (setan) sudah dirantai, mengapa dorongan untuk berdusta, marah, atau berbuat maksiat lainnya masih terasa kuat dalam diri kita?"

Berdasarkan penjelasan dari Dar al-Ifta Mesir dan para ulama, konsep tashfid al-syayatin (pembelengguan setan) bukanlah sebuah peniadaan otomatis terhadap dosa, melainkan sebuah fasilitas Allah yang efektivitasnya sangat bergantung pada kualitas diri sang hamba. 

Para ulama seperti Al-Qurtubi dan Al-Munawi dalam elbalad.news menjelaskan bahwa kata "dibelenggu" memiliki beberapa makna. Penting untuk dicatat bahwa pembelengguan ini bersifat kondisional, ia terutama berlaku bagi mereka yang menjaga syarat dan adab puasanya dengan benar.

Tiga Akar Masalah: Mengapa Dosa Masih Muncul?

Jika setan sudah dibatasi, lalu dari mana datangnya maksiat? Al-Qurtubi menjelaskan bahwa sumber kejahatan tidak bersifat tunggal. Ada tiga faktor internal dan eksternal yang tetap aktif:

1. Nafsu yang Buruk (An-Nafsu al-Khabitsah): Jiwa manusia memiliki kecenderungan untuk berbuat buruk. Ramadan adalah saat di mana kita menyadari bahwa musuh terbesar terkadang bukan setan yang membisiki dari luar, melainkan ego kita sendiri yang belum terdidik.

2. Kebiasaan Buruk (Al-Adat al-Rakikah): Jika selama 11 bulan kita membiasakan diri dengan perilaku negatif, kebiasaan itu menjadi otomatis. Menggunakan Analogi Remote Control: Di bulan Ramadan, setan mungkin kehilangan remote control-nya, tetapi televisi (diri kita) masih memutar saluran maksiat karena kebiasaan yang sudah terprogram lama.

3. Setan dari Golongan Manusia (Syayathin al-Ins): Pengaruh buruk dari lingkungan sosial atau teman-teman yang mengajak pada kemaksiatan tetap ada. Inilah mengapa pergaulan harus dijaga dengan baik.

Jika di bulan Ramadan kita masih merasa berat untuk beribadah atau mudah jatuh dalam dosa, jangan hanya menyalahkan setan. Jangan-jangan itu pengaruh dari nafsu kita, faktor kebiasaan, ataukah pengaruh lingkungan. 

Wallahu a’lam

Editor: Mawardi

Terpopuler

Terbaru

Menu Aksesibilitas
Ukuran Font
Default