Provinsi

Semangat Toleransi Dalam Bingkai Kemerdekaan

Foto Kontributor
Fatri Andy

Kontributor

Jumat, 29 Agustus 2025
...

oleh:

Miguel Dharmadjie, S.T., CPS®, CCDd® 

 Penyuluh Agama Buddha Non PNS

Sukho buddhānaṁ uppādo, sukhā saddhammadesanā.

Sukhā sanghassa sāmaggi, samaggānaṁ tapo sukho.

Kelahiran para Buddha merupakan sebab kebahagiaan,

Pembabaran Ajaran Benar merupakan sebab kebahagiaan.

Persatuan Sangha merupakan sebab kebahagiaan,

Dan usaha perjuangan mereka yang telah bersatu merupakan sebab kebahagiaan.

(Dhammapada, Syair 194)


Menyemarakkan HUT ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia, Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan mengadakan Jalan Sehat Kerukunan. Kegiatan ini bertujuan untuk meneguhkan kembali semangat toleransi dalam bingkai kemerdekaan. Karena Indonesia adalah negara yang sangat majemuk, baik suku bangsa, agama, ras, budaya, dan lain-lain. Keberagaman sesungguhnya merupakan karunia bagi bangsa ini.

Sejatinya, toleransi bukanlah hal baru bagi bangsa dan rakyat Indonesia yang dikenal religius. Karena telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari sejak dahulu. Nenek moyang kita mewariskan nilai-nilai luhur bangsa berperadaban tinggi dan sarat makna filosofi kehidupan.

Keteladanan nilai-nilai toleransi leluhur bangsa terdapat dalam Kakawin Sutasoma yang ditulis Mpu Tantular, seorang pujangga buddhis. Kakawin yang berbunyi: Siwa Buddha Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa (Berbeda-beda namun tetap satu, tiada kebenaran yang mendua) ini bermakna membina kerukunan dan persatuan antar umat beragama.

Dengan mengedepankan persatuan yang menghargai keberagaman, para pendiri bangsa menetapkan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan negara. Ini menjadi warisan berharga bagi kita untuk terus bersemangat menjunjung tinggi toleransi, bertenggang rasa, serta mewujudkan kerukunan dan persatuan dalam keberagaman.

Toleransi merupakan hal mendasar dalam menjaga kerukunan dan merawat kebinekaan Indonesia. Menjadi inspirasi untuk menjalin komunikasi serta berinteraksi dalam kehidupan bersesama, dan sumber kekuatan untuk bersatu padu mencapai cita-cita bersama.

Prinsip toleransi memperlakukan orang lain sebagai saudara yang saling mendukung dalam merekatkan tali persaudaraan dan menjalin persaudaraan sejati. Dengan kata lain, memanusiakan orang lain sesuai harkat dan martabatnya sebagai sesama manusia.

Secara universal, toleransi menjadi bagian dari esensi semua ajaran agama. Karena semua agama pada dasarnya mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan yang sama. Toleransi menjadi pengejawantahan nilai-nilai religius agama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Toleransi menjadi pedoman umat beragama untuk dipraktikkan dalam kehidupan, demi terwujudnya kerukunan, persatuan, dan kehidupan yang aman, damai, dan bahagia.

Bagi umat Buddha, Ajaran Benar / Kebenaran Universal (Dhamma) menjadi esensi sumber nilai ajaran Buddha; agar terkendali dalam pikiran, ucapan, dan perilaku nya; dalam menjalani kehidupan dan berinteraksi dengan masyarakat. Guru Agung Buddha mengajarkan untuk selalu mengembangkan pikiran, ucapan, dan perilaku yang dilandasi dengan penuh cinta kasih (metta) dan welas asih / kasih sayang (karuna) kepada sesama.

Toleransi dalam buddhis sangat luas dan mendalam. Kitab Suci Tipitaka mengandung nilai-nilai toleransi, yang tercermin dalam berbagai nasihat, tindakan dan sikap Buddha beserta para siswa-Nya yang mengembangkan toleransi dalam menjalin hubungan sosial.

Dengan mengedepankan cara moderasi dan kemampuan untuk menghargai pihak lain yang memiliki tradisi dan ajaran yang berbeda, nilai-nilai toleransi diajarkan Guru Agung Buddha kepada murid-murid-Nya melalui praktik langsung dalam kehidupan.


Buddha mengajarkan apa yang telah dipraktikkan dan mempraktikkan apa yang telah diajarkan. Beliau menjadi teladan bagi umat Buddha untuk tekun mempelajari Dhamma, termasuk mempraktikkan nilai-nilai toleransi dalam setiap aspek kehidupan.


Semua manusia tanpa melihat latar belakangnya; membutuhkan perlindungan, tidak ingin menderita, dan menginginkan kebahagiaan. Menurut Dhamma, semua manusia bersaudara, pernah menjadi saudara dan memiliki pertalian karma. Sehingga sudah seharusnya bersama-sama saling mendukung satu sama lain dalam kebajikan.


Perbedaan dalam keberagaman suatu kewajaran, dikarenakan hukum sebab akibat yang saling berkaitan. Adanya perbedaan fisik dan psikis setiap manusia sangat tergantung pada kualitas dan kuantitas perbuatan manusia itu sendiri. Karenanya, nilai-nilai toleransi menjadi sangat penting dikembangkan dalam kehidupan.


Dalam agama Buddha, ada dua aspek penting yang hendaknya dipraktikkan untuk mengembangkan nilai-nilai toleransi. Pertama, Kedewasan berpikir, berucap dan berperilaku untuk menghindari perselisihan. Dasarnya, Dhamma pelindung dunia (Lokapala Dhamma), yaitu : perasaan malu untuk berbuat jahat (hiri) dan rasa takut akan akibat perbuatan jahat (ottappa).


Kedua, Mengembangkan empat sifat luhur (brahmavihara) untuk mengangkat derajat manusia dan mewujudkan kehidupan yang damai dan tenteram. Yaitu : cinta kasih (metta) atau kehendak baik yang mengharapkan kebahagiaan semua makhluk tanpa kecuali, welas asih / kasih sayang (karuna) kepada mereka yang sedang mengalami penderitaan dan berusaha untuk membantu mereka agar terbebas dari penderitaan, rasa simpati / turut berbahagia (mudita) atas keberhasilan orang lain, dan batin yang seimbang dalam segala keadaan (upekkha).


Dalam mengembangkan nilai-nilai toleransi Guru Agung Buddha berpesan : “Hiduplah dengan persatuan, saling berbahagia, bebas dari pertengkaran, bercampur seperti susu dan air, dan melihat satu sama lain dengan pandangan penuh kasih.”


Toleransi adalah akar dari perdamaian. Bertoleransi merupakan kebajikan bagi kita dalam menghargai kebinekaan dan mewujudkan kerukunan. Ketika seseorang dapat bertoleransi, ia telah menciptakan kehidupan yang jauh dari penderitaan dan menuju kepada kebahagiaan.

“Barangsiapa menghina agama orang lain, dengan maksud menjatuhkan agama orang lain, berarti ia telah menghancurkan agamanya sendiri. Kerukunan dan toleransi antar umat beragama patut dihargai. Hendaknya kita mau mendengar dan memahami ajaran yang benar dari agama lain”. (Piagam Asoka)

Mari kita tumbuhkan komitmen bersama meneguhkan kembali semangat toleransi dalam bingkai kemerdekaan untuk menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai. 


Semoga semua makhluk berbahagia.*(mi_dhata)

Biodata Penulis:

Nama              : Miguel Dharmadjie, S.T., CPS®, CCDd®

Profesi            : Pembicara Publik, Dhammaduta, Penyuluh Agama Buddha Non PNS, Penyuluh 

Editor: Andi Baly

Terpopuler

Terbaru

Menu Aksesibilitas
Ukuran Font
Default